TEORI BELAJAR BEHAVIOR, KOGNITIF, DAN KOSNTRUKTIVISME
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.
Belajar
dan Pembelajaran
Belajar merupakan proses perubahan di
dalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut diaktualisasikan dalam bentuk
peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku serta peningkatan kecakapan,
pengetahuan, sikap kebiasaan, pemahaman, ketrampilan, daya pikir dan kemampuan
lainnya (Hakim, 2005).
Menurut Komalasari (2014) belajar
merupakan proses asimilasi maksud dari asimilasi tersebut ialah proses untuk
menghubungkan dengan pengetahuan yang seudah dimiliki sebelumnya. Karena proses
belajar bukan hanya berhubungan dengan proses pematangan. Perkembangan seorang
tergantung daripada interaksi dengan lingkungan. Beberapa rinsip belajar
manurut Hakim (2005) yaitu.
1.
Belajar harus berorientasi pada tujuan yanng
jelas dengan tujuan yang jelas setiap orang akan dapat menentukan arah dan juga
tahapan dalam belajar karena keberhasilan belajar seorang dapat dilihat dari
sejauh mana mampu mencapai tujuan belajar.
2.
Proses beajar akan terjadi bila seorang
didhadapkan pada situasi problematik artinya sesuatu mengandung masalah yang
akan merangsang seseorang untuk berfiir dalam memecahkannya.
3.
Belajar dengan pengertian akan lebih bermakna
daripada belajar dengan hafalan. Belajar dengan pengertian lebih memungkinkan
seorang untukl lebih berhasil dalam
menerapkan dan mengembangkan segala hal yang sudah dipelajari dan dimengerti.
4.
Belajar merupakan proses yang kontnu. Belajar
tentu memerlukan waktu. Karean pikiran manusia memiliki keterbataan dalam
menyerap ilmu dalam jumlah banyak sekaligus. Karena itu, belajar tertentu
dengan jumlah materi yang sesuai dengan kemampuan kita.
5.
Belajar memerlukan kemauan yang kuat.
Sebagiamana kita ketahui bahwa
keberhasilan bidang apapun memerlukan kemauan seseorang yang kuat. Kemauan
belajar yag kuat akan mendapatkan atau dapat menciptakan tujuan yang hendak
dalam belajar
6.
Kberhasilan belajar ditentukan oleh banyak
faktor. Secara garis besar faktor yang
mempengaruhi keberhasilan belajar itu dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor
internal dan faktor eksternal. Faktor internal berhubungan dari dalam individu
itu sendiri seperti kesehatan, kecerdasan, daya ingat, kemauan dan bakat.
Sedangkan faktor eksternal faktor yang berasal dari luar individu seperti
keadaan lingkungan rumah, sekolah, masyarakat, dan segala sesuatu yang
berhubungan dengan semua lingkungan.
7.
Belajar secara seluruh akan lebih berhasil daripada
belajar secara terpisah. Belajar secara keseluruhan akan dapat membantu kita
mengetahu segala sesuatu secar mendalam daripada apa yang sedang dikaji.
8.
Proses belajar memerlukan metode yang tepat. Metode
belajar yang tepat akan memungkinkan seorang siswa atau masiswa menguasai ilmu
dengan lebih mudah.
9.
Belajar memerlukan kesesuain antara guru dan
murid. Kesesuaian antara guru dan murid kenyataannya memang sangat mempengaruhi
seorang murid dalam menyenangi suatu pelajaran. Karena itu guru dituntut untuk
selalu memilih metode pengajaran yang benar sesuai dengan kemampuan murid,
serta guru akan selalu berusaha menetapkan suatu metode pengajaran yang akan
membuat murid senang dan bersemangat serta merasa mudah dalam mempelajari suatu
bidang studi.
10. Belajar
memelukan kemampuan dalam menagkap intisari. Belajar dengan penuh pengertian
akan lebih baik dan bermakna daripada belajar dengan manghafal. Kemampuan
menangkap intisari pelajaran sangan perlu dimiliki siswa atau mahasiawa.
Melalui cara ini akan dapat membuat suatu ringkasan semua mata pelajaran pyang
dipalajarinya.
Pembelajaran ialah proses dua arah, di mana mengajar dilakukan oleh pihak
guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau
murid. Seorang guru membelajarkan siswa dengan menggunakan asas pendidikan
maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Istilah
pembelajaran lebih popular dan lebih tepat ketimbang proses belajar mengajar
yang tekanannya pada motivasi peserta didik untuk aktif agar mereka dapat
menemukan sendiri cara belajar yang tepat baginya (learn how to learn). Kalau
secara filosofi dalam proses pembelajaran dinyatakan berilah pancing dan ajari
cara memancing dan jangan diberikan kepada mereka ikan yang telah siap dimakan.
Maka di sini akhirnya para peserta didik harus mampu mencari dan membangun
sendiri pengetahuannya (Hermawan, 2014).
B.
Teori
Belajar Behaviorisme
1. Ivan
Pavlov (1849 – 1936): Classical
Conditioning
Ivan
Pavlov merupakan psikolog asal Russia yang pertama kali meneliti perilaku
mahluk hidup berdasarkan classical conditioning atau pengkondisian lingkungan
secara klasik. Ia adalah pemenang Nobel pada tahun 1904.
Dalam tahun terakhir dari abad
ke-19 dan tahun permulaan abad ke-20 Pavlov dan kawannya mempelajari proses
pencernan dalam anjing. Selama penelitian mereka para ahli ini memperhatikan
perubahan dalam waktu dan kecepatan pengeluaran air liur. Dalam eksperimen ini
Pavlov dan kawannya menunjukkan , bagaimana belajar dapat mempengaruhi perilaku
yang selama ini disangka refleksif dan tidak dapat dikendalikan seperti
pengeluaran air liur.Berikutialahilustrasipengamatan Pavlov
dankawannyakepadaAnjing.
Gambar 1 : Ilustrasipengamatan
Pavlov dankawannyakepadaAnjing.
2. Watson
(1878-1958): Behavioral Psychology
J.B. Watson merupakan
Bapak behavioral psychology. Watson mengembangkan teori behaviorisme
berdasarkan penelitian Pavlov dan merupakan orang yang pertama kali
mengaplikasikan temuan Pavlov kepada manusia, melalui pembentukan refleks yang
terbentuk dari hubungan stimulus-respon yang telah dikondisikan.
Eksperimen Watson
adalah “The Little Albert” yaitu percobaannya terhadap seorang bayi sebelas
bulan bernama Albert. Watson dengan istrinya menggunakan tikus putih dan gong.
Pada permulaan eksperimen, Albert tidak takut pada tikus putih tersebut, bahkan
dia berusaha ingin memegangnya.
Kemudian di suatu
waktu ketika Albert hendak memegang tikus, ditabuhlah gong yang mengagetkan
Albert dan membuatnya takut sekaligus takut kepada tikusnya. Penabuhan gong ini
dilakukan berulang. Pada akhir eksperimen, ketika tikusnya didekatkan pada
Albert walau tidak ada penabuhan gong, Albert ketakutan, menangis dan mencoba
merangkak menjauhi tikus.
3. Edward
Lee Thorndike (1874-1049): Hukum Pengaruh
Thorndike adalah
seorang behaviorist yang memberikan sumbangan penting terhadap classical
conditioning terhadap proses belajar, khususnya yang berkaitan dengan pengaruh
hubungan antara stimulus dan responsdalam pembentukan prilaku dan konsekuensi
terhadap pembentukan perilaku yang diinginkan.
Dalam sejumlah
eksperimennya, Thorndike menempatkan kucing dalam kotak. Dari kotak ini kucing
itu harus keluar untuk memperoleh makanan. Ia mengamati, bahwa sesudah selang
waktu kucing itu belajar bagaimana dapat keluar dari kotak itu lebih cepat
dengan mengulangi perilaku yang mengarah pada keluar, dan tidak mengulangi
perilaku yang tidak efektif. Dari eksperimen ini, Thorndike mengembangkan
hukumnya yang dikenal dengan Hukum Pengaruh atau “Law of Effect.”
Hukum penngaruh
Thorndike mengemukakan bahwa jika suatu tindakan diikuti oleh suatu perubahan
yang memuaskan dalam lingkungan, kemungkinan bahwa tindakan itu diulangi dalam
situasi yang mirip, akan meningkat. Tetapi bila suatu perilaku diikuti oleh
suatu perubahana yang tidak memuaskan dalam lingkungan, kemungkinan bahwa
perilaku itu diulangi, akan menurun. Jadi, konsekuensi dari perilaku seseorang
pada suatu saat, memegang peranan penting dalam menentukan perilaku orang itu
selanjutnya.
Gambar 2: Ilustrasi teori behavioristik oleh Thorndike
4. F.
Skinner (1904 – 1990): Operant
Conditioning
Studi
Skinner terpusat pada hubungan antara perilaku dan konsekuensinya. Sebagai
contoh misalnya bila perilaku seseorang segera diikuti oleh konsekuensi yang
menyenangkan, orang itu akan terlibat dalam perilaku itu lebih kerap kali.
Penggunaan konsekuensi yang menyenangkan itu dan tak menyenangkan untuk
mengubah perilaku disebut Operant
Conditioning.
Gambar 3: Ilustrasi teori behavioristik oleh Skinner
Prinsip
Teori Belajar Behaviorisme
1. Konsekuensi
2. Kesegeraan
3. Pembentukan
Tabel
1. Perbedaan reinforcement dan punishment
Reinforcement
(perilaku meningkat)
|
Punishment
(perilaku berkurang)
|
|
Positif: menghadirkan kejadian
|
Positive reinforcement: kejadian yang diharapkan
akibat perilaku meningkat
|
Positive Punishment: kejadian yang diharapkan akibat
perilaku meningkat
|
Negatif: menghilangkan kejadian
|
Negative reinforcement: menghilangkan kejadian yang
diharapkan akibatnya menurunkan perilaku
|
Negative Punishment: menghilangkan kejadian yang
diharapkan akibatnya menurunkan perilaku
|
Behaviorisme merupakan salah satu
pendekatan di dalam psikologi pendidikan yang didasari keyakinan bahwa anak
dapat dibentuk sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orang yang membentuknya.
Perkembangan anak sangat ditentukan oleh faktor yang berada di luar anak itu
sendiri, bukan dari faktor yang berasal dari dalam. Semua tindakan pendidikan
ditentukan secara sepihak, yaitu pendidik dan anak dianggap sebagai obyek
pendidikan.
Bagi para behavioris, memehami cara
pandang dan perasaan oreng seperti yang dilakukan oleh strukturalis tidaklah
peting karena yang penting adalah bagaimana orang dapat melakukan sesuatu
secara aktual. Oleh sebab itu, para behaviaorist menekankan peneliitannya pada
perilaku manusia yang nyata dalam peristiwa aktual. Metode penelitian psikologi
yang menekankan “analytic instropection” diganti dengan metode “conditioning”
yang menekankan hubungan stimulus-respon (Vasta, Heith &Miller, 19(9:11).
C.
Teori
Belajar Kognitif
Teori belajar kognitif merupakan teori belajar yang lebih
mementingkan proses belajar daripada hasil belajar. Belajar bukan hanya sekedar
melibatkan hubungan stimulus serta respon, melainkan belajar melibatkan proses
berfikir yang sangat komplek. Teori belajar kognitif merupakan salah satu teori
yang muncul sebagai reaksi terhadap kelemahan mendasar dalam teori behaviorisme
yang mementingkan perubahan perilaku yang tampak. Berdasarkan teori kognitif
stimulus bukan merupakan variabel tunggal yang menyebabkan terjadinya respons
melainkan akibat terdapat variabel moderator tertentu yang turut mempengaruhi
kemunculan suatu respons. Variabel moderator ini yang disebut sebagai faktor
internal seperti emosi, mental, persepsi, motivasi dan sebagainya (Lefudin, 2017).
Para tokoh yang menganut teori Kognitivisme
diantaranya ialah sebagai berikut.
1. Teori perkembangan kognitif Jean Piaget
Teori perkembangan kognitif Jean Piaget merupakan salah satu
teori perkembangan yang menjelaskan bagaimana seorang individu dapat
beradaptasi dengan cara menginterpretasikan obyek dan kejadian disekitarnya.
Ibda (2015) mengemukakan bahwa dalam penelitian Piaget perkembangan intelektual
seorang individu dan perubahan umur sangat mempengaruhi kemampuan individu
dalam kegiatan pengamatan ilmu pengetahuan.
Beberapa istilah perkembangan kognitif yang sering digunakan
oleh Jean Piaget (Wisudawati, 2015) adalah sebagai berikut.
1.
Skema merupakan struktur kognitif individu untuk
mengingat dan memberi respon terhadap rangsangan yang masuk dari lingkungan
sekitarnya. Skema dibentuk oleh seorang individu dari mulai lahir dan akan
terus berkembang seiring perkembangan individu tersebut.
2.
Asimilasi merupakan suatu proses kognitif dimana
seorang individu mengintegrasikan antara persepsi, konsep, atau pengalaman baru
ke dalam pengalaman kognitifnya. Proses asimilasi terjadi manakala konsep baru
yang dipelajari tidak berbeda jauh dengan skema yang telah dimiliki oleh
seorang individu sehingga individu memproses pembentukan suatu konsep tersebut
dengan menyempurnakan skema yang dimiliki.
3.
Akomodasi merupakan suatu proses pembentukan
pengetahuan individu untuk menghadapi rangsangan yang masuk ke dalam struktur
kognitifnya. Akomodasi dapat terjadi dalam dua hal, yaitu, mengubah skema yang
ada dalam struktur kognitif individu karena pengalaman yang ia temukan tidak
ada dalam struktur berpikir individu dan Individu bisa memodifikasi skema yang
ada sehingga cocok dengan rangsangan yang masuk ke dalam diri individu.
4.
Disekuilibrium merupakan keadaan
ketidakseimbangan yang merupakan perubahan kognisi.
5.
Ekuilibrium merupakan keadaan kesetimbangan
antara asimilasi dan akomodasi, yaitu pengaturan diri mekanis (mechanical self-regulation) yang perlu
untuk mengatur kesetimbangan asimilasi dan akomodasi.
6.
Adaptasi merupakan cara anak untuk menyesuaikan
skema sebagai tanggapan atas lingkungannya.
Tahapan perkembangan kognitif menurut Jean Piaget (dalam,
Lefudin, 2017) terbagi menjadi empat yaitu sebagai berikut.
1.
Tahap Sensorimotor (Umur 0-2 tahun)
Tahap paling awal
perkembangan kognitif terjadi pada waktu bayi lahir sampai sekitar berumur 2
tahun. Tahap ini disebut dengan tahap sensorimotor. Pada tahap sensorimotor,
intelegensi anak lebih didasarkan pada tindakan inderawi anak terhadap
lingkungannya, seperti melihat, meraba, mendengar, membau, dan lain sebagainya.
Anak pada tahap ini masih bersifat egosentris. Pertumbuhan kemampuan anak pada
tahap ini tampak dari kegiatan motorik dan persepsinya yang sederhana. Contoh
tahap sensorimotor adalah diatas ranjang seorang bayi diletakkan mainan yang
berbunyi bila talinya dipegang. Suatu saat ia akan main dengan menarik tali
tersebut. Ia mendengar bunyi yang bagus dan ia senang, maka ia akan terus mencoba
untuk menarik bunyi tersebut. Piaget membagi empat tahap dalam sesnsorimotor
yaitu umur 0-1 bulan (refleksi) tindakan bayi didasarkan karena adanya
rangsangan dari luar yang ditanggapi dengan cara refleks, spontan, dan tidak
disengaja, umur 1-4 bulan (reaksi atas sekuler) bayi mulai mengikuti benda yang
bergerak dengan matanya dan mulai menggerakkan kepala ke sumber suara yang ia
dengar, umur 4-8 bulan (reaksi sekuler kedua) bayi mulai menciptakan kembali
kejadian yang menarik baginya. Ia mulai mengulang dan menghadirkan kembali
peristiwa yang menyenangkan, umur 8-12 bulan (reaksi koordinasi) bayi mulai
mempunyai kemampuan untuk menyatukan tingkah laku yang sebelumnya telah
diperoleh untuk mencapai tujuan tertentu, umur 12-18 bulan (reaksi sekuler ketiga)
penemuan makna baru melalui pengalaman yang dilalui oleh bayi secara aktif, dan
umur 18-24 bulan (penggambaran pemikiran awal) mulai mempunyai upaya untuk
memahami aktivitas permainan dan fungsi simbolik.
2.
Tahap Pra Operasional Konkret (Umur 2-7 Tahun)
Pada tingkat ini,
anak telah menunjukkan aktivitas kognitif dalam menghadapi berbagai hal diluar
dirinya. Aktivitas berfikirnya belum mempunyai sistem yang teroganisasikan.
Anak sudah dapat memahami realitas di lingkungan dengan menggunakan tanda dan
simbol.
Mohd (2003)
mengemukakan bahwa cara berpikir anak pada tahapan ini bersifat tidak
sistematis, tidak konsisten, dan tidak logis. Hal ini ditandai dengan ciri,
sebagai berikut:
a. Transductive reasoning, yaitu
cara berfikir yang bukan induktif atau deduktif tetapi tidak logis.
b. Ketidak jelasan hubungan sebab-akibat,
yaitu anak mengenal hubungan sebab-akibat secara tidak logis.
c. Animisme, yaitu menganggap
bahwa semua benda itu hidup seperti dirinya.
d. Artificialisme, yaitu
kepercayaan bahwa segala sesuatu di lingkungan itu mempunyai jiwa seperti
manUmur.
e.
Perceptually bound, yaitu anak menilai sesuatu berdasarkan apa yang
dilihat atau didengar
f. Mental
experiment yaitu anak mencoba melakukan sesuatu untuk menemukan jawaban
dari persoalan yang dihadapinya
g. Centration, yaitu anak
memusatkan perhatiannya kepada sesuatu ciri yang paling menarik dan mengabaikan
ciri yang lainnya.
h. Egosentrisme, yaitu anak
melihat dunia lingkungannya menurut kehendak dirinya.
Contoh tahap praoperasional konkret
menurut Amir (2015), yaitu anak bermain pasar-pasaran dengan uang dari daun.
Kemudian dalam penggunaan bahasa ia menirukan bahasa orang lain yang ia dengar
dan tanpa sadar ia menirukan secara berulang.
3.
Tahap
Operasional Konkret (Umur 7-12 Tahun)
Pada tahap ini, anak sudah cukup matang untuk menggunakan
pemikiran logika atau operasi, tetapi hanya untuk objek fisik yang ada saat
ini. Jarvis (dalam Ibda, 2015) mengemukakan bahwa tahap operasional konkret,
anak akan kehilangan kecenderungan terhadap animisme dan articialisme.
Egosentrisnya berkurang dan kemampuannya dalam tugas konservasi menjadi lebih
baik. Namun, tanpa objek fisik di hadapan mereka, anak-anak pada tahap
operasional konkret masih mengalami kesulitan besar dalam menyelesaikan
tugas-tugas logika.
Contoh tahap operasional konkret, yaitu suatu gelas diisi
air, kemudian dimasukkan uang logam pada gelas tersebut. Pada tahap operai
konkret sudah mulai mengira bahwa volume air dalam gelas tersebut tetap sama,
berbeda pada tahapan sebelumnya mengira volume air setelah dimasukkan logam
akan bertambah.
4.
Tahap Operasional Formal (Umur 12 Tahun-Dewasa)
Tahap ini juga
sering disebut dengan tahap operasi hipotetik-deduktif yang merupakan tahap
tertinggi dari perkembangan intelektual. Pada tahap ini pemikiran seseorang
menjadi semakin logis dan tidak lagi bergantung pada hal yang konkret, sehingga
sudah mempunyai kemampuan untuk berpikir abstrak.
2. Teori perkembangan kognitif Bruner
Menurut Fathurrohman (2017) teori belajar Bruner disebut
sebagai teori belajar penemuan. Bruner banyak memberikan pandangan mengenai
perkembangan kognitif manusia, bagaimana manusia belajar untuk memperoleh
pengetahuan dan mentransformasikan pengetahuan. Bruner mempelajari cara anak
belajar dan menciptakan istilah perancah untuk menggambarkan cara anak
membangun informasi yang telah dikuasai. Bruner menyarankan tiga represntasi
yaitu berbasis tindakan, represntasi ikonik, dan representasi simbolik. Bruner
menyarankan sistem pengkodean dimana orang membentuk hirarki kategori terkait
secara berurutan. Bruner percaya belajar hars didorong oleh kepentingan materi
daripada tes atau hukuman, kita belajar terbaik ketika menemukan pengetahuan
kita sehingga menarik. Menurutnya ada tiga proses kognitif yang terjadi dalam
belajar yakni proses perolehan informasi baru, proses mentransformasikan
informasi yang diterima, dan menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan.
Husamah (2018) Jrome Bruner tidak mengembangkan suatu teori
belajar yang sistematis, karena yang penting baginya ialah cara bagaimana orang
memilih, mempertahankan dan mentransformasikan informasi secara aktif. Bruner
memusatkan perhatikan kepada bagaimana yang dilakukan manusia dengan informasi
yang diterimanya, dan apa yang dilakukan sesudah memperoleh informasi. Siswa
mengorganisir bahan yang dipelajari dalam suatu bentuk akhir. Teori ini disebut
dengan discovery learning atau bagaiman orang memilih mempertahankan dan
mentransformasikan secara aktif. Empat tema pendidikan Bruner yaitu pentingnya
arti struktur pengetahuan karena dapat menolong siswa untuk melihat, bagaiman
fakta yang kelihatannya tidak ada hubungan dan dihubungkan satu dengan yang
lain, kesiapan untuk belajar terdiri atas penguasaan ketrampilan yang lebih
sederhana yang dapat membantu memperoleh ketrampilan yang lebih tinggi,
menekankan nilai intuisi dalam proses pendidikan sehingga diperoleh suatu
kesimpulan apakah benar dan tidak berdasarkan
hasil analisis informasi, dan motivasi belajar serta metode yang
diguankan oleh guru dalam pembelajaran untuk dapat merangsang motivasi belajar.
Bruner
mengatakan pada penyajian materi ada 3 tahapan yang harus diperhatikan dalam
mengaplikasikan teori belajar ini yaitu:
a.
Tahapan Enaktif (0-2 tahun)
Enaktif
yaitu tahap
pembelajaran suatu pengetahuan dimana pengetahuan itu dipelajari secara aktif
dengan menggunakan benda-benda konkrit. Dalam tahap ini siswa secara langsung
terlibat dalam memanipulasi atau mengotak-atik suatu benda.
b.
Tahapan Ikonik (2-4 tahun)
Ikonik
yaitu tahap pembelajaran suatu pengetahuan dimana pengetahuan itu direpresentasikan atau diwujudkan
dalam bentuk bayangan visual, gambar dan diagram yang menggambarkan kegiatan
kongkrit atau situasi yang terdapat pada tahap enaktif. Dalam hal ini siswa
belajar memahami konsep-konsep melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal.
c.
Tahapan simbolik (5-7)
Simbolik
yaitu suatu
pengetahuan dimana pengetahuan itu direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol
abstrak baik simbol lambang-lambang matematika maupun lambang abstrak lainnya.
Pada tahap
ini siswa sudah mampu mengggunakan notasi atau simbol tanpa ketergantungan
terhadap objek real.
3. Teori perkembangan
kognitif Ausubel
Menurut Gasong (2018) teori belajar Ausubel meneitikberatkan
kepada belajar yang bermakna. Belajar bermakna dapat mengaitkan pengatahuan baru dengan pengetahuan lain yang
setingkat yang sebelumnya telah dimiliki diluar dari isi pembelajaran yang akan
dibahas. Teori ini menuntut seorang mahasiswa belajar secara deduktif dengan
mementingkan struktur kognitif mahasiswa. Advance
Organizer berfungsi sebagai kerangka konseptual
yang menjadi titik tolak proses belajar yang berlangsung, penghubung antar ilmu
pengetahuan saat ini dengan ilmu yang baru yang akan menjadi materi pemebelajaran, serta fasilitator yang membantu mempermudah proses
belajar mahasiswa.
Mahasiswa akan belajar dengan baik jika terdapat pengaturan
kemajuan belajar didefisinsikan dan dipresentasikan dengan baik serta tepat.
Pengaturan kemajuan belajar adalah konsep atau informasi umum yang mewadahi
semua isi pelajaran yang akan diajarkan kepada mahasiswa. Ausubel percaya bahwa pengaturan kemajuan dapat memeberikan tiga
macam manfaat yaitu menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi yang kan
dipelajari, sebagai jembatan yang menghubungkan antara apa yang sedang
dipelajari saat ini dengan apa yang akan dipelajari, membantu memahami bahan
ajar secara lebih mudah (Nursalam, 2008).
D.
Teori
Belajar Konstruktivisme
Seiring upaya perbaikan
kualitas pembelajaran ke arah pembelajaran organis, filsafat konstruktivisme
kian populer dibidang pendidikan pada dekade terakhir ini. Pemikiran filsafat
konstruktivisme mengenai hakikat pengetahuan memberikan sumbangan terhadap
usaha mendekonstruksi pembelajaran mekanis. Gagasan konstruktivisme mengenai
pengetahuan dapat dirangkum sebagai berikut.
a. pengetahuan
bukanlah gambaran dunia kenyataan belaka tetapi selalu merupakan konstruksi
kenyataan melalui subyek
b. Subyek membentuk
skema kognitif, kategori, konsep dan struktur yang perlu untuk pengetahuan
c. Pengetahuan
dibentuk dalam struktur konsep seseorang. Struktur konsep membentuk pengetahuan
jika konsep itu berlaku dalam berhadapan dengan pengalaman seseorang
(Suprijono, 2009)
Constructivism
(konstruktivisme) merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan kontekstual
(Contextual Teaching and Learning)
yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang
hasilnya diperluas. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep atau kaidah
yang siap untuk diambil dan diingat. Siswa harus mengkonstruksi pengetahuan itu
dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Dalam pandangan konstruktivis,
strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa
memperoleh dan mengingat pengetahuan. Dengan dasar itu, maka pembelajaran harus
dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan “menerima” pengetahuan (Utami, et al., 2009)
Pengetahuan itu dikonstruksikan (dibangun), buka
dipersepsi secara langsung oleh indra. Semua pengetahuan, tidak peduli
bagaimana pengetahuan itu didefinisikan, terbentuk di dalam otak manusia dan
subjek yang berpikir tidak memiliki alternatif lain selain mengonstruksikan apa
yang diketahuinya berdasarkan pengalaman sendiri. Semua pikiran orang
didasarkan pada pengalamannya sendiri, sehingga disebut subjektif (Suprijono,
2009).
Pandangan konstruktivistik dilandasi oleh teori Piaget
tentang skema, asimilasi, akomodasi, dan equilibration, konsep Zone of
Proximal Development (ZPD) dari Vygotsky, teori Bruner tentang discovery
learning, teori Ausubel tentang belajar bermakna, dan interaksionisme
semiotik. Berikut ini akan dideskripsikan beberapa teori yang melandasi
pendekatan konstruktivistik.
1.
Skema
Skema adalah suatu
struktur mental atau kognitif yang dengannya seseorang secara intelektual
beradaptasi dan mengkoordinasi lingkungan sekitarnya. Skema itu akan beradaptasi
dan berubah selama perkembangan mental anak. Skema bukanlah benda nyata yang
dapat dilihat, melainkan suatu rangkaian proses dalam sistem kesadaran orang,
maka tidak memiliki bentuk fisik dan tidak dapat dilihat. Skema adalah hasil
kesimpulan atau bentukan mental, konstruksi hipotesis, seperti intelek,
kreativitas, kemampuan, dan naluri (Wadsworth, 1989).
Skema tidak pernah berhenti berubah atau menjadi lebih
rinci.Skema seorang anak berkembang menjadi skema orang dewasa.Gambaran dalam
pikiran anak menjadi semakin berkembang dan lengkap.Misalnya anak yang sedang
berjalan dengan ibunya melihat seekor kuda.Lalu ibunya bertanya, “Apa nama
binatang itu nak?” Karena anak tersebut baru kali itu melihat kuda dan sudah
sering melihat sapi, maka ia menjawab “Itu sapi”. Anak tersebut melihat ada
sesuatu yang sama antara kuda dengan konsep sapi yang ia punyai, yaitu berkaki
empat, bermata dua, bertelinga dua, dan berjalan merangkak. Anak tersebut belum
dapat melihat perbedaannya, melainkan melihat kesamaannya antara sapi dengan
kuda. Bila anak mampu melihat perbedaannya, ia akan mengembangkan skemanya
tentang kuda, tidak sebagai sapi lagi.
2.
Asimilasi
Asimilasi adalah proses
kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep, atau
pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya.
Asimilasi dapat dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan
mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan yang baru dalam skema yang telah
ada. Asimilasi tidak menyebabkan perubahan skema, melainkan memperkembangkan
skema
(Suprijono, 2009). Misalnya, seseorang
yang baru mengenal konsep balon, maka dalam pikiran orang itu memiliki skema
“balon”. Kalau ia mengempeskan balon itu kemudian meniupnya lagi sampai besar
dan meletus atau mengisinya dengan air sampai besar, ia tetap memiliki skema
tentang balon. Perbedaannya adalah skemanya tentang balon diperluas dan terici
lebih lengkap, bukan hanya sebagai balon yang menggelembung karena terisi
udara, melainkan balon dengan macam-macam sifatnya. Asimilasi merupakan salah
satu proses individu dalam mengadaptasikan dan mengoirganisasikan diri dengan
lingkungan baru sehingga pengertian orang itu berkembang.
3.
Akomodasi
Seseorang dalam
menghadapi rangsangan atau pengalaman yang baru, tidak dapat mengasimilasikan
pengalaman yang baru itu dengan skema yang telah ia punyai. Pengalaman yang
baru itu bisa jadi sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada. Dalam
keadaan seperti ini orang itu akan mengadakan akomodasi, yaitu (a) membentuk
skema baru yang dapat cocok dengan rangsangan yang baru atau (b) memodifikasi
skema yang ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Misalnya, seorang anak
memiliki skema bahwa semua binatang berkaki dua atau empat. Skema itu didapat
dari abstraksinya terhadap binatang yang pernah dijumpainya. Pada suatu ketika
ia berjalan ke sawah dan menemukan banyak binatang yang kakinya lebih dari
empat. Anak tersebut merasakan bahwa skema lamanya tidak cocok lagi dan terjadi
konflik dalam pikirannya. Ia harus mengadakan perubahan terhadap skema lamanya.
Ia mengadakan akomodasi dengan membentuk skema baru bahwa binatang dapat
berkaki dua, empat, dan atau lebih dari empat.
Skema seseorang dibentuk
dengan pengalaman sepanjang waktu. Skema menunjukkan taraf pengertian dan
pengetahuan seseorang sekarang tentang dunia sekitarnya. Karena skema itu suatu
konstruksi, maka bukan tiruan dari kenyataan dunia yang ada. Menurut Piaget,
proses asimilasi dan akomodasi ini terus berjalan dalam diri seseorang. Dalam
contoh pengalaman anak di atas, ia akan terus mengembangkan skemanya tentang
kaki binatang bila dijumpainya pengalaman yang berbeda, misalnya bahwa ada juga
binatang yang tidak berkaki.
4.
Equilibration
Proses asimilasi dan
akomodasi perlu untuk perkembangan kognitif seseorang. Dalam perkembangan
intelek seseorang diperlukan keseimbangan antara asimilasi dengan akomodasi.
Proses ini disebut equilibrium, yaitu pengaturan diri secara mekanis untuk
mengatur keseimbangan proses asimilasi dan akomodasi. Disequilibrium adalah
keadaan tidak seimbang antara asimilasi dan akomodasi. Equilibration adalah
proses dari disequilibrium ke equilibrium. Proses tersebut
berjalan terus dalam diri individu melalui asimilasi dan akomodasi. Equilibration
membuat seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamnya
(skema). Bila terjadi ketidakseimbangan, maka seseorang terpacu untuk mencari
keseimbangan dengan jalan asimilasi atau akomodasi (Jono, 1989).
5.
Zone of
Proximal Development
Piaget dan Vygotsky
merupakan dua tokoh utama konstruktivisme. Kedua tokoh ini memandang bahwa
peningkatan pengetahuan merupakan hasil konstruksi pembelajaran dari pemelajar,
bukan sesuatu yang “disuapkan” dari orang lain. Kedua tokoh ini juga
berpendapat bahwa belajar bukan semata pengaruh dari luar, tetapi ada juga
kekuatan atau potensi dari dalam individu yang belajar.
Perbedaan lainnya antara
lain; 1) Piaget memandang tahapan kognitif anak berdasarkan umur yang kaku,
semestara Vygotsky menyatakan bahwa dalam setiap tahapan itu terdapat perbedaan
kemampuan anak, 2) Piaget lebih menekankan pada perkembangan kognitif anak
sebagai manusia individu yang mandiri, sementara Vygotsky mementingkan
perkembangan kognitif anak sebagai makhluk sosial, dan merupakan bagian
integral dari masyarakat, dan 3) Piaget menamai potensi diri anak sebagai
skemata, sementara Vygotsky menyebutnya sebagai “Zone of Proximal
Development”.
Menurut konsep Zone
of Proximal Development (ZPD), perkembangan psikologi bergantung pada
kekuatan sosial luar sekaligus pada kekuatan batin (inner resources).
Asumsi konsep dasar ini adalah bahwa perkembangan psikologis dan pembelajaran
tertanam secara sosial, dan untuk memahaminya kita harus menganalisis
masyarakat sekitar dan hubungan-hubungan sosialnya. Vygotsky menyatakan bahwa
anak mampu meniru tindakan yang melampaui kapasitasnya, namun hanya dalam
batas-batas tertentu. Ketika sedang meniru, anak sanggup melakukan secara lebih
baik bila dibimbing oleh orang dewasa daripada dilakukannya sendiri. Vygotsky
mendefinisikan ZPD sebagai jarak antara “tingkat perkembangan aktual anak
sebagaimana ditentukan oleh kemampuan memecahkan masalah secara mandiri dan
tingkat perkembangan potensial sebagaimana ditentukan oleh pemecahan masalah di
bawah bimbingan orang dewasa atau kerjasama dengan sebaya yang mampu”. Oleh
karena itu ZPD, merupakan perangkat analitik yang diperlukan untuk merencanakan
pembelajaran dan pembelajaran yang berhasil harus menciptakan ZPD yang
merangsang serangkaian proses perkembangan batiniah.
Konsep sentral lain
dalam karya Vygotsky adalah “pembicaraan batin” (inner speech). Konsep
ini muncul dari penjelajahan Vygotsky untuk menemukan hubungan antara tindakan
pikiran yang tidak terlihat dengan bahasa sebagai fenomena kebudayaan, yang
bisa dijelaskan dengan analisis obyektif. Pembicaraan dengan diri sendiri
merupakan masalah utama dalam persoalan hubungan antara pikiran dan bahasa.
Para behavioris menyatakan bahwa pikiran hanyalah pembicaran subvocal,
pembicaraan lahiriah yang tumbuh sangat kecil. Vigotsky bertentangan dengan
behavioris, menegaskan bahwa pikiran berkembang untuk merefleksikan kenyataan
sosial. Proses komunikasi dengan orang lain menghasilkan perkembangan makna
kata yang kemudian membentuk struktur kesadaran. Pembicaraan batiniah tidak
mungkin ada tanpa interaksi sosial. Namun sama dengan Piaget, sumber belajar
terutama emerge from within.
6.
Discovery Learning
Bruner membedakan dua tipe model mengajar, yaitu model expository
dan model hypothetical (atau discovery learning). Discovery
learning adalah sebuah pendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa
menggunakan informasi untuk mengkonstruksi pemahamannya sendiri. Menurut
Bruner, ada empat manfaat yang dapat diperoleh siswa dengan penerapan metode discovery
learning ini, yaitu; 1) meningkatkan potensi intelektual, 2) mengubah dari
reward ekstrinsik ke reward intrinsik, 3) mempelajari secara heuristik atau
pengerjaan strategi guna melakukan penemuan di masa yang akan datang, dan 4)
membantu dalam melakukan retensi dan retrival (memperoleh kembali informasi).
Discovery learning merupakan metode pembelajaran dan sekaligus sebagai
tujuan pendidikan. Sebagai metode, discovery learning merupakan
penyediaan situasi bagi siswa tanpa mengungkapkan apa yang sudah diketahui guru
tentang situasi tersebut. Asumsinya bahwa dengan bantuan minimal dari guru,
siswa dapat mempelajari lebih banyak hal bila ia “menemukan” sendiri pelajaran
yang dipelajarinya. Sebagai tujuan pendidikan, discovery learning merupakan
sikap, strategi dan keterampilan yang memungkinkan individu untuk mengenali dan
memecahkan masalah, sehingga membuatnya lebih memiliki kemampuan dalam
menghadapi tuntutan-tuntutan kehidupan.
Ada dua tipe discovery,
yaitu; unstructured discovery dan guided discovery. Unstructured
discovery timbul dalam setting alami dimana siswa mengkonstruksi pemahaman
mereka sendiri, seperti seorang ilmuwan yang melakukan penemuan unik dalam
proyek penelitian, sedangkan guided discovery timbul manakala guru
memberikan gambaran tentang tujuan yang hendak dicapai, menyusun informasi
sehingga pola-polanya dapat ditemukan, dan membimbing siswa ke arah tujuan (Joni, 1989).
7.
Belajar
Bermakna
Menurut Ausubel (Joni, 1989) belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua demensi.
Dimensi pertama, berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran
disajikan pada siswa, melalui penerimaan atau penemuan. Dimensi kedua,
menyangkut cara bagaimana siswa dapat mengkaitkan informasi itu pada struktur
kognitif yang telah ada. Struktur kognitif dalam hal ini ialah fakta, konsep,
dan generalisasi yang telah dimiliki oleh siswa.
Pada tingkat pertama
dalam belajar, informasi dapat dikomunikasikan pada siswa baik dalam bentuk
belajar penerimaan yang menyajikan informasi itu dalam bentuk final, maupun
dengan bentuk belajar penemuan yang mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri
sebagian atau seluruh materi yang akan diajarkan. Pada tingkat kedua, siswa
menghubungkan atau mengkaitkan informasi itu pada pengetahuan (berupa fakta,
konsep, dan generalisasi) yang telah dimilikinya; dalam hal ini terjadi
“belajar bermakna”. Akan tetapi siswa dapat juga hanya mencoba-coba
menghafalkan informasi baru itu, tanpa menghubungkannya pada pengetahuan yang
telah ada dalam struktur kognitifnya; dalam hal ini terjadi “belajar
Belajar bermakna
merupakan suatu proses mengkaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan
yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Meskipun kita tidak mengetahui
mekanisme biologi tentang memori atau disimpannya pengetahuan, kita mengetahui
bahwa informasi disimpan di daerah-daerah tertentu dalam otak. Banyak sel otak
yang terlibat dalam penyimpanan pengetahuan itu. Belajar menghasilkan
perubahan-perubahan dalam sel-sel otak, terutama sel-sel yang telah menyimpan
informasi yang mirip dengan informasi yang sedang dipelajari.
Tabel
2.Perbedaan antara Teori Behaviorisme, Kognitivisme, dan Konstruktivisme
Behaviorisme
|
Kognitivisme
|
Konstruktivisme
|
Merekayasa lingkungan belajar maksimal
secara efisien
|
Mengembangkan keterampilan untuk life long self-direct learning
|
Mengembangkan keterampilan untuk life long self-direct learning
|
Bejalar merupakan perubahan tingkah laku
yang dapat diamati dan perilaku tersebut dapat dikuatkan atau dihentikan
melalui hukuman.
|
Belajar merupakan pelibatan penguasaan atau
penataan kembali struktur kognitif dimana seseorang memperoleh dan menyimpan
informasi.
|
Belajar merupakan pembagunan pengetahuan
berdasarkan pengetahuan yang telah ada sebelumnya
|
Pengajaran direncanakan dengan menyusun
tujuan instruksional yang dapat diukur dan diamati
|
Semua gagasan dan citraan diwakili dalam
skema
|
Belajar merupakan penafsiran seseorang
tentang dunia
|
Guru tidak perlu tahu pengetahuan apa yang
telah diketahui dan apa yang terjadi pada proses berpikir seseorang
|
Jika informasi sesuai dengan skema akan
diterima, jika tidak akan disesuaikan atau skema yang disesuaikan
|
Belajar merupakan proses aktif melalui
interaksi atau kerja sama dengan yang lain dan perlu disituasikan dalam latar
yang nyata.
|
Tanggapan terhadap stimulus dan perilaku
teratur
|
Kontruksi pengetahuan bermakna melalui
pengalaman dan interaksi
|
Tanggapan terhadap stimulus lingkungan dan
perilaku teratur
|
Pengajaran berprogram (programmed instruction) yang menentukan umpan balik kontrak
perilaku kinerja, penguatan
|
Menggunakan kesempatan belajar manipulatif
dan dunia-nyata yang relevan dengan pengalaman siswa sebelumnya
|
Pengajaran berapa
program (programmed instruction)
yang menentukan umpan-balik pada kontrak perilaku kinerja dan penguatan
|
BAB
III
PENUTUP
A.
Simpulan
Belajar merupakan kegitan yang
sengaja dirancang dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan atau perubahan
sikap, pemikiran serta ketrampilan seseorang. Teori
belajar behaviorisme merupakan teori belajar perilaku yaitu pemahaman terhadap
kejadian di lingkungan untuk
memprediksi perilaku seseorang, bukan
pikiran, perasaan, ataupun
kejadian internal lain
dalam diri orang tersebut.
Teori
belajar kognitif merupakan teori belajar yang menitik beratkan bahwa belajar
merupakan bukan berdasarkan hasil yang diperoleh melainkan proses belajar itu
sendiri, serta dalam pelaksanaanya belajar dipengaruhi bukan hanya karena
stimulus semata melainkan ada variabel internal lain yang mempengaruhi seperti
umur, emosi, dan mental seseorang. Teori belajar kognitivisme dan kontruktivisme merupakan teori belajar yang tidak dapat
dipisahkan karena kedua teori tersebut harus saling mendukung satu sama lain.
B.
Saran
Saran kepada pembaca terutama calon pendidik
diharapkan mampu mempelajari dan mempraktekkan teori belajar yang sesuai dengan
kebuuhan anak dalam pembelajaran. Selain itu teori belajar yang diterapkan hendaknya
diimbangi dengan metode dan model yang sesuai.
DAFTAR
RUJUKAN
Amir, Z. 2015. Psikologi Pembelajaran Matematika.
Yogyakarta: Aswaja Persindo.
Fathurrohman, M. 2017.
Belajar dan Pembelajaran Modern. Yogyakarta:
Garudhawaca.
Gasong, D. 2018. Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta:
Deepublish.
Hakim, T. 2005. Belajar Secara Efekti. Jakarta: Pustaka
Pembangunan Swadaya Nusantara.
Hermawan, A. 2014.
Konsep Belajar dan Pembelajaran Menurut Al-Ghazali. Jurnal Qathruna 1(1) 89.
Husamah. 2018. Pelajar dan Pembelajaran. Malang:
Universitas Muhammadiyah Malang.
Ibda, F. 2015. Perkembangan Kognitif : Teori Jean Piaget. Jurnal Intelektualita, 3 (1) 27-38.
Jono, R. 1989. Teori-Teori
Pembelajaran. Jakarta: Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan
Komalasari, K. 2014. Pembelajaran Kontekstual Konsep dan Aplikasi.
Bandung: PT Refika Aditama.
Lefudin. 2017. Belajar dan
Pembelajaran: Yogyakarta: Deepublish
Mohd. S. 2003. Psikologi
Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung:
Yayasan Bhakti Winaya.
Nursalam & Ferry.
E. 2008. Pendidikan dalam Keperawatan. Surabaya:
Salemba Medika.
Suprijono, A. 2009. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Utami, B. Iskandar, S.M. dan Ibnu, S. 2009. Penerapan
Pembelajaran Konstruktivisme Dalam Pembelajaran Kimia di SMU. Prosiding Seminar Nasional Kimia dan
Pendidikan Kimia. ISSBN 979-498-467-1 198-208.
Wisudawati, A.. 2015. Metodologi Pembelajaran IPA. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Comments
Post a Comment