TEORI BELAJAR BEHAVIOR, KOGNITIF, DAN KOSNTRUKTIVISME



BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Belajar dan Pembelajaran
Belajar merupakan proses perubahan di dalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut diaktualisasikan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku serta peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap kebiasaan, pemahaman, ketrampilan, daya pikir dan kemampuan lainnya (Hakim, 2005).
Menurut Komalasari (2014) belajar merupakan proses asimilasi maksud dari asimilasi tersebut ialah proses untuk menghubungkan dengan pengetahuan yang seudah dimiliki sebelumnya. Karena proses belajar bukan hanya berhubungan dengan proses pematangan. Perkembangan seorang tergantung daripada interaksi dengan lingkungan. Beberapa rinsip belajar manurut Hakim (2005)  yaitu.
1.      Belajar harus berorientasi pada tujuan yanng jelas dengan tujuan yang jelas setiap orang akan dapat menentukan arah dan juga tahapan dalam belajar karena keberhasilan belajar seorang dapat dilihat dari sejauh mana mampu mencapai tujuan belajar.
2.      Proses beajar akan terjadi bila seorang didhadapkan pada situasi problematik artinya sesuatu mengandung masalah yang akan merangsang seseorang untuk berfiir dalam memecahkannya.
3.      Belajar dengan pengertian akan lebih bermakna daripada belajar dengan hafalan. Belajar dengan pengertian lebih memungkinkan seorang untukl  lebih berhasil dalam menerapkan dan mengembangkan segala hal yang sudah dipelajari dan dimengerti.
4.      Belajar merupakan proses yang kontnu. Belajar tentu memerlukan waktu. Karean pikiran manusia memiliki keterbataan dalam menyerap ilmu dalam jumlah banyak sekaligus. Karena itu, belajar tertentu dengan jumlah materi yang sesuai dengan kemampuan kita.
5.      Belajar memerlukan kemauan yang kuat. Sebagiamana  kita ketahui bahwa keberhasilan bidang apapun memerlukan kemauan seseorang yang kuat. Kemauan belajar yag kuat akan mendapatkan atau dapat menciptakan tujuan yang hendak dalam belajar
6.      Kberhasilan belajar ditentukan oleh banyak faktor.  Secara garis besar faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar itu dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berhubungan dari dalam individu itu sendiri seperti kesehatan, kecerdasan, daya ingat, kemauan dan bakat. Sedangkan faktor eksternal faktor yang berasal dari luar individu seperti keadaan lingkungan rumah, sekolah, masyarakat, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan semua lingkungan.
7.      Belajar secara seluruh akan lebih berhasil daripada belajar secara terpisah. Belajar secara keseluruhan akan dapat membantu kita mengetahu segala sesuatu secar mendalam daripada apa yang sedang dikaji.
8.      Proses belajar memerlukan metode yang tepat. Metode belajar yang tepat akan memungkinkan seorang siswa atau masiswa menguasai ilmu dengan lebih mudah.
9.      Belajar memerlukan kesesuain antara guru dan murid. Kesesuaian antara guru dan murid kenyataannya memang sangat mempengaruhi seorang murid dalam menyenangi suatu pelajaran. Karena itu guru dituntut untuk selalu memilih metode pengajaran yang benar sesuai dengan kemampuan murid, serta guru akan selalu berusaha menetapkan suatu metode pengajaran yang akan membuat murid senang dan bersemangat serta merasa mudah dalam mempelajari suatu bidang studi.
10.  Belajar memelukan kemampuan dalam menagkap intisari. Belajar dengan penuh pengertian akan lebih baik dan bermakna daripada belajar dengan manghafal. Kemampuan menangkap intisari pelajaran sangan perlu dimiliki siswa atau mahasiawa. Melalui cara ini akan dapat membuat suatu ringkasan semua mata pelajaran pyang dipalajarinya.
Pembelajaran ialah proses dua arah, di mana mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid. Seorang guru membelajarkan siswa dengan menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Istilah pembelajaran lebih popular dan lebih tepat ketimbang proses belajar mengajar yang tekanannya pada motivasi peserta didik untuk aktif agar mereka dapat menemukan sendiri cara belajar yang tepat baginya (learn how to learn). Kalau secara filosofi dalam proses pembelajaran dinyatakan berilah pancing dan ajari cara memancing dan jangan diberikan kepada mereka ikan yang telah siap dimakan. Maka di sini akhirnya para peserta didik harus mampu mencari dan membangun sendiri pengetahuannya (Hermawan, 2014).

B.     Teori Belajar Behaviorisme
1.      Ivan Pavlov (1849 – 1936): Classical Conditioning
     Ivan Pavlov merupakan psikolog asal Russia yang pertama kali meneliti perilaku mahluk hidup berdasarkan classical conditioning atau pengkondisian lingkungan secara klasik. Ia adalah pemenang Nobel pada tahun 1904.
Dalam tahun terakhir dari abad ke-19 dan tahun permulaan abad ke-20 Pavlov dan kawannya mempelajari proses pencernan dalam anjing. Selama penelitian mereka para ahli ini memperhatikan perubahan dalam waktu dan kecepatan pengeluaran air liur. Dalam eksperimen ini Pavlov dan kawannya menunjukkan , bagaimana belajar dapat mempengaruhi perilaku yang selama ini disangka refleksif dan tidak dapat dikendalikan seperti pengeluaran air liur.Berikutialahilustrasipengamatan Pavlov dankawannyakepadaAnjing.
Gambar 1 : Ilustrasipengamatan Pavlov dankawannyakepadaAnjing.
2.      Watson (1878-1958): Behavioral Psychology
J.B. Watson merupakan Bapak behavioral psychology. Watson mengembangkan teori behaviorisme berdasarkan penelitian Pavlov dan merupakan orang yang pertama kali mengaplikasikan temuan Pavlov kepada manusia, melalui pembentukan refleks yang terbentuk dari hubungan stimulus-respon yang telah dikondisikan.
Eksperimen Watson adalah “The Little Albert” yaitu percobaannya terhadap seorang bayi sebelas bulan bernama Albert. Watson dengan istrinya menggunakan tikus putih dan gong. Pada permulaan eksperimen, Albert tidak takut pada tikus putih tersebut, bahkan dia berusaha ingin memegangnya.
Kemudian di suatu waktu ketika Albert hendak memegang tikus, ditabuhlah gong yang mengagetkan Albert dan membuatnya takut sekaligus takut kepada tikusnya. Penabuhan gong ini dilakukan berulang. Pada akhir eksperimen, ketika tikusnya didekatkan pada Albert walau tidak ada penabuhan gong, Albert ketakutan, menangis dan mencoba merangkak menjauhi tikus.
3.      Edward Lee Thorndike (1874-1049): Hukum Pengaruh
Thorndike adalah seorang behaviorist yang memberikan sumbangan penting terhadap classical conditioning terhadap proses belajar, khususnya yang berkaitan dengan pengaruh hubungan antara stimulus dan responsdalam pembentukan prilaku dan konsekuensi terhadap pembentukan perilaku yang diinginkan.
Dalam sejumlah eksperimennya, Thorndike menempatkan kucing dalam kotak. Dari kotak ini kucing itu harus keluar untuk memperoleh makanan. Ia mengamati, bahwa sesudah selang waktu kucing itu belajar bagaimana dapat keluar dari kotak itu lebih cepat dengan mengulangi perilaku yang mengarah pada keluar, dan tidak mengulangi perilaku yang tidak efektif. Dari eksperimen ini, Thorndike mengembangkan hukumnya yang dikenal dengan Hukum Pengaruh atau “Law of Effect.”
Hukum penngaruh Thorndike mengemukakan bahwa jika suatu tindakan diikuti oleh suatu perubahan yang memuaskan dalam lingkungan, kemungkinan bahwa tindakan itu diulangi dalam situasi yang mirip, akan meningkat. Tetapi bila suatu perilaku diikuti oleh suatu perubahana yang tidak memuaskan dalam lingkungan, kemungkinan bahwa perilaku itu diulangi, akan menurun. Jadi, konsekuensi dari perilaku seseorang pada suatu saat, memegang peranan penting dalam menentukan perilaku orang itu selanjutnya.
Gambar 2: Ilustrasi teori behavioristik oleh Thorndike

4.      F. Skinner (1904 – 1990): Operant Conditioning
     Studi Skinner terpusat pada hubungan antara perilaku dan konsekuensinya. Sebagai contoh misalnya bila perilaku seseorang segera diikuti oleh konsekuensi yang menyenangkan, orang itu akan terlibat dalam perilaku itu lebih kerap kali. Penggunaan konsekuensi yang menyenangkan itu dan tak menyenangkan untuk mengubah perilaku disebut Operant Conditioning.
Gambar 3: Ilustrasi teori behavioristik oleh Skinner
Prinsip Teori Belajar Behaviorisme
1.      Konsekuensi
2.      Kesegeraan
3.      Pembentukan
Tabel 1. Perbedaan reinforcement dan punishment
Reinforcement
(perilaku meningkat)
Punishment
(perilaku berkurang)
Positif: menghadirkan kejadian
Positive reinforcement: kejadian yang diharapkan akibat perilaku meningkat
Positive Punishment: kejadian yang diharapkan akibat perilaku meningkat
Negatif: menghilangkan kejadian
Negative reinforcement: menghilangkan kejadian yang diharapkan akibatnya menurunkan perilaku
Negative Punishment: menghilangkan kejadian yang diharapkan akibatnya menurunkan perilaku
            Behaviorisme merupakan salah satu pendekatan di dalam psikologi pendidikan yang didasari keyakinan bahwa anak dapat dibentuk sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orang yang membentuknya. Perkembangan anak sangat ditentukan oleh faktor yang berada di luar anak itu sendiri, bukan dari faktor yang berasal dari dalam. Semua tindakan pendidikan ditentukan secara sepihak, yaitu pendidik dan anak dianggap sebagai obyek pendidikan.
            Bagi para behavioris, memehami cara pandang dan perasaan oreng seperti yang dilakukan oleh strukturalis tidaklah peting karena yang penting adalah bagaimana orang dapat melakukan sesuatu secara aktual. Oleh sebab itu, para behaviaorist menekankan peneliitannya pada perilaku manusia yang nyata dalam peristiwa aktual. Metode penelitian psikologi yang menekankan “analytic instropection” diganti dengan metode “conditioning” yang menekankan hubungan stimulus-respon (Vasta, Heith &Miller, 19(9:11).
C.    Teori Belajar Kognitif
Teori belajar kognitif merupakan teori belajar yang lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar. Belajar bukan hanya sekedar melibatkan hubungan stimulus serta respon, melainkan belajar melibatkan proses berfikir yang sangat komplek. Teori belajar kognitif merupakan salah satu teori yang muncul sebagai reaksi terhadap kelemahan mendasar dalam teori behaviorisme yang mementingkan perubahan perilaku yang tampak. Berdasarkan teori kognitif stimulus bukan merupakan variabel tunggal yang menyebabkan terjadinya respons melainkan akibat terdapat variabel moderator tertentu yang turut mempengaruhi kemunculan suatu respons. Variabel moderator ini yang disebut sebagai faktor internal seperti emosi, mental, persepsi, motivasi dan sebagainya (Lefudin, 2017).
      Para tokoh yang menganut teori Kognitivisme diantaranya ialah sebagai berikut.
1. Teori perkembangan kognitif Jean Piaget
Teori perkembangan kognitif Jean Piaget merupakan salah satu teori perkembangan yang menjelaskan bagaimana seorang individu dapat beradaptasi dengan cara menginterpretasikan obyek dan kejadian disekitarnya. Ibda (2015) mengemukakan bahwa dalam penelitian Piaget perkembangan intelektual seorang individu dan perubahan umur sangat mempengaruhi kemampuan individu dalam kegiatan pengamatan ilmu pengetahuan.
Beberapa istilah perkembangan kognitif yang sering digunakan oleh Jean Piaget (Wisudawati, 2015) adalah sebagai berikut.
1.    Skema merupakan struktur kognitif individu untuk mengingat dan memberi respon terhadap rangsangan yang masuk dari lingkungan sekitarnya. Skema dibentuk oleh seorang individu dari mulai lahir dan akan terus berkembang seiring perkembangan individu tersebut.
2.    Asimilasi merupakan suatu proses kognitif dimana seorang individu mengintegrasikan antara persepsi, konsep, atau pengalaman baru ke dalam pengalaman kognitifnya. Proses asimilasi terjadi manakala konsep baru yang dipelajari tidak berbeda jauh dengan skema yang telah dimiliki oleh seorang individu sehingga individu memproses pembentukan suatu konsep tersebut dengan menyempurnakan skema yang dimiliki.
3.    Akomodasi merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan individu untuk menghadapi rangsangan yang masuk ke dalam struktur kognitifnya. Akomodasi dapat terjadi dalam dua hal, yaitu, mengubah skema yang ada dalam struktur kognitif individu karena pengalaman yang ia temukan tidak ada dalam struktur berpikir individu dan Individu bisa memodifikasi skema yang ada sehingga cocok dengan rangsangan yang masuk ke dalam diri individu.
4.    Disekuilibrium merupakan keadaan ketidakseimbangan yang merupakan perubahan kognisi.
5.    Ekuilibrium merupakan keadaan kesetimbangan antara asimilasi dan akomodasi, yaitu pengaturan diri mekanis (mechanical self-regulation) yang perlu untuk mengatur kesetimbangan asimilasi dan akomodasi.
6.    Adaptasi merupakan cara anak untuk menyesuaikan skema sebagai tanggapan atas lingkungannya.
Tahapan perkembangan kognitif menurut Jean Piaget (dalam, Lefudin, 2017) terbagi menjadi empat yaitu sebagai berikut.
1.      Tahap Sensorimotor (Umur 0-2 tahun)
       Tahap paling awal perkembangan kognitif terjadi pada waktu bayi lahir sampai sekitar berumur 2 tahun. Tahap ini disebut dengan tahap sensorimotor. Pada tahap sensorimotor, intelegensi anak lebih didasarkan pada tindakan inderawi anak terhadap lingkungannya, seperti melihat, meraba, mendengar, membau, dan lain sebagainya. Anak pada tahap ini masih bersifat egosentris. Pertumbuhan kemampuan anak pada tahap ini tampak dari kegiatan motorik dan persepsinya yang sederhana. Contoh tahap sensorimotor adalah diatas ranjang seorang bayi diletakkan mainan yang berbunyi bila talinya dipegang. Suatu saat ia akan main dengan menarik tali tersebut. Ia mendengar bunyi yang bagus dan ia senang, maka ia akan terus mencoba untuk menarik bunyi tersebut. Piaget membagi empat tahap dalam sesnsorimotor yaitu umur 0-1 bulan (refleksi) tindakan bayi didasarkan karena adanya rangsangan dari luar yang ditanggapi dengan cara refleks, spontan, dan tidak disengaja, umur 1-4 bulan (reaksi atas sekuler) bayi mulai mengikuti benda yang bergerak dengan matanya dan mulai menggerakkan kepala ke sumber suara yang ia dengar, umur 4-8 bulan (reaksi sekuler kedua) bayi mulai menciptakan kembali kejadian yang menarik baginya. Ia mulai mengulang dan menghadirkan kembali peristiwa yang menyenangkan, umur 8-12 bulan (reaksi koordinasi) bayi mulai mempunyai kemampuan untuk menyatukan tingkah laku yang sebelumnya telah diperoleh untuk mencapai tujuan tertentu, umur 12-18 bulan (reaksi sekuler ketiga) penemuan makna baru melalui pengalaman yang dilalui oleh bayi secara aktif, dan umur 18-24 bulan (penggambaran pemikiran awal) mulai mempunyai upaya untuk memahami aktivitas permainan dan fungsi simbolik.
2.      Tahap Pra Operasional Konkret (Umur 2-7 Tahun)
       Pada tingkat ini, anak telah menunjukkan aktivitas kognitif dalam menghadapi berbagai hal diluar dirinya. Aktivitas berfikirnya belum mempunyai sistem yang teroganisasikan. Anak sudah dapat memahami realitas di lingkungan dengan menggunakan tanda dan simbol.
       Mohd (2003) mengemukakan bahwa cara berpikir anak pada tahapan ini bersifat tidak sistematis, tidak konsisten, dan tidak logis. Hal ini ditandai dengan ciri, sebagai berikut:
a.  Transductive reasoning, yaitu cara berfikir yang bukan induktif atau deduktif tetapi tidak logis.
b. Ketidak jelasan hubungan sebab-akibat, yaitu anak mengenal hubungan sebab-akibat secara tidak logis.
c.  Animisme, yaitu menganggap bahwa semua benda itu hidup seperti dirinya.
d. Artificialisme, yaitu kepercayaan bahwa segala sesuatu di lingkungan itu mempunyai jiwa seperti manUmur.
e. Perceptually bound, yaitu anak menilai sesuatu berdasarkan apa yang dilihat atau didengar
f.   Mental experiment yaitu anak mencoba melakukan sesuatu untuk menemukan jawaban dari persoalan yang dihadapinya
g.  Centration, yaitu anak memusatkan perhatiannya kepada sesuatu ciri yang paling menarik dan mengabaikan ciri yang lainnya.
h.  Egosentrisme, yaitu anak melihat dunia lingkungannya menurut kehendak dirinya.
Contoh tahap praoperasional konkret menurut Amir (2015), yaitu anak bermain pasar-pasaran dengan uang dari daun. Kemudian dalam penggunaan bahasa ia menirukan bahasa orang lain yang ia dengar dan tanpa sadar ia menirukan secara berulang.


3.      Tahap Operasional Konkret (Umur 7-12 Tahun)
Pada tahap ini, anak sudah cukup matang untuk menggunakan pemikiran logika atau operasi, tetapi hanya untuk objek fisik yang ada saat ini. Jarvis (dalam Ibda, 2015) mengemukakan bahwa tahap operasional konkret, anak akan kehilangan kecenderungan terhadap animisme dan articialisme. Egosentrisnya berkurang dan kemampuannya dalam tugas konservasi menjadi lebih baik. Namun, tanpa objek fisik di hadapan mereka, anak-anak pada tahap operasional konkret masih mengalami kesulitan besar dalam menyelesaikan tugas-tugas logika.
Contoh tahap operasional konkret, yaitu suatu gelas diisi air, kemudian dimasukkan uang logam pada gelas tersebut. Pada tahap operai konkret sudah mulai mengira bahwa volume air dalam gelas tersebut tetap sama, berbeda pada tahapan sebelumnya mengira volume air setelah dimasukkan logam akan bertambah.
4.      Tahap Operasional Formal (Umur 12 Tahun-Dewasa)
       Tahap ini juga sering disebut dengan tahap operasi hipotetik-deduktif yang merupakan tahap tertinggi dari perkembangan intelektual. Pada tahap ini pemikiran seseorang menjadi semakin logis dan tidak lagi bergantung pada hal yang konkret, sehingga sudah mempunyai kemampuan untuk berpikir abstrak.
2. Teori perkembangan kognitif Bruner
Menurut Fathurrohman (2017) teori belajar Bruner disebut sebagai teori belajar penemuan. Bruner banyak memberikan pandangan mengenai perkembangan kognitif manusia, bagaimana manusia belajar untuk memperoleh pengetahuan dan mentransformasikan pengetahuan. Bruner mempelajari cara anak belajar dan menciptakan istilah perancah untuk menggambarkan cara anak membangun informasi yang telah dikuasai. Bruner menyarankan tiga represntasi yaitu berbasis tindakan, represntasi ikonik, dan representasi simbolik. Bruner menyarankan sistem pengkodean dimana orang membentuk hirarki kategori terkait secara berurutan. Bruner percaya belajar hars didorong oleh kepentingan materi daripada tes atau hukuman, kita belajar terbaik ketika menemukan pengetahuan kita sehingga menarik. Menurutnya ada tiga proses kognitif yang terjadi dalam belajar yakni proses perolehan informasi baru, proses mentransformasikan informasi yang diterima, dan menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan.
Husamah (2018) Jrome Bruner tidak mengembangkan suatu teori belajar yang sistematis, karena yang penting baginya ialah cara bagaimana orang memilih, mempertahankan dan mentransformasikan informasi secara aktif. Bruner memusatkan perhatikan kepada bagaimana yang dilakukan manusia dengan informasi yang diterimanya, dan apa yang dilakukan sesudah memperoleh informasi. Siswa mengorganisir bahan yang dipelajari dalam suatu bentuk akhir. Teori ini disebut dengan discovery learning  atau bagaiman orang memilih mempertahankan dan mentransformasikan secara aktif. Empat tema pendidikan Bruner yaitu pentingnya arti struktur pengetahuan karena dapat menolong siswa untuk melihat, bagaiman fakta yang kelihatannya tidak ada hubungan dan dihubungkan satu dengan yang lain, kesiapan untuk belajar terdiri atas penguasaan ketrampilan yang lebih sederhana yang dapat membantu memperoleh ketrampilan yang lebih tinggi, menekankan nilai intuisi dalam proses pendidikan sehingga diperoleh suatu kesimpulan apakah benar dan tidak berdasarkan  hasil analisis informasi, dan motivasi belajar serta metode yang diguankan oleh guru dalam pembelajaran untuk dapat merangsang motivasi belajar.
Bruner mengatakan pada penyajian materi ada 3 tahapan yang harus diperhatikan dalam mengaplikasikan teori belajar ini yaitu:
a.       Tahapan Enaktif (0-2 tahun)
Enaktif yaitu tahap pembelajaran suatu pengetahuan dimana pengetahuan itu dipelajari secara aktif dengan menggunakan benda-benda konkrit. Dalam tahap ini siswa secara langsung terlibat dalam memanipulasi atau mengotak-atik suatu benda.
b.      Tahapan Ikonik (2-4 tahun)
Ikonik yaitu tahap pembelajaran suatu pengetahuan dimana pengetahuan itu direpresentasikan atau diwujudkan dalam bentuk bayangan visual, gambar dan diagram yang menggambarkan kegiatan kongkrit atau situasi yang terdapat pada tahap enaktif. Dalam hal ini siswa belajar memahami konsep-konsep melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal.
c.       Tahapan simbolik (5-7)
Simbolik yaitu suatu pengetahuan dimana pengetahuan itu direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak baik simbol lambang-lambang matematika maupun lambang abstrak lainnya. Pada tahap ini siswa sudah mampu mengggunakan notasi atau simbol tanpa ketergantungan terhadap objek real.
3. Teori perkembangan kognitif Ausubel
Menurut Gasong (2018) teori belajar Ausubel meneitikberatkan kepada belajar yang bermakna. Belajar bermakna dapat mengaitkan pengatahuan baru dengan pengetahuan lain yang setingkat yang sebelumnya telah dimiliki diluar dari isi pembelajaran yang akan dibahas. Teori ini menuntut seorang mahasiswa belajar secara deduktif dengan mementingkan struktur kognitif mahasiswa. Advance Organizer berfungsi sebagai kerangka konseptual yang menjadi titik tolak proses belajar yang berlangsung, penghubung antar ilmu pengetahuan saat ini dengan ilmu yang baru yang akan menjadi materi pemebelajaran, serta fasilitator yang membantu mempermudah proses belajar mahasiswa.
Mahasiswa akan belajar dengan baik jika terdapat pengaturan kemajuan belajar didefisinsikan dan dipresentasikan dengan baik serta tepat. Pengaturan kemajuan belajar adalah konsep atau informasi umum yang mewadahi semua isi pelajaran yang akan diajarkan kepada mahasiswa. Ausubel percaya bahwa pengaturan kemajuan dapat memeberikan tiga macam manfaat yaitu menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi yang kan dipelajari, sebagai jembatan yang menghubungkan antara apa yang sedang dipelajari saat ini dengan apa yang akan dipelajari, membantu memahami bahan ajar secara lebih mudah (Nursalam, 2008).

D.    Teori Belajar Konstruktivisme
            Seiring upaya perbaikan kualitas pembelajaran ke arah pembelajaran organis, filsafat konstruktivisme kian populer dibidang pendidikan pada dekade terakhir ini. Pemikiran filsafat konstruktivisme mengenai hakikat pengetahuan memberikan sumbangan terhadap usaha mendekonstruksi pembelajaran mekanis. Gagasan konstruktivisme mengenai pengetahuan dapat dirangkum sebagai berikut.
a.       pengetahuan bukanlah gambaran dunia kenyataan belaka tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan melalui subyek
b.      Subyek membentuk skema kognitif, kategori, konsep dan struktur yang perlu untuk pengetahuan
c.       Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsep seseorang. Struktur konsep membentuk pengetahuan jika konsep itu berlaku dalam berhadapan dengan pengalaman seseorang (Suprijono, 2009)
            Constructivism (konstruktivisme) merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Siswa harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Dalam pandangan konstruktivis, strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Dengan dasar itu, maka pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan “menerima” pengetahuan (Utami, et al., 2009)
            Pengetahuan itu dikonstruksikan (dibangun), buka dipersepsi secara langsung oleh indra. Semua pengetahuan, tidak peduli bagaimana pengetahuan itu didefinisikan, terbentuk di dalam otak manusia dan subjek yang berpikir tidak memiliki alternatif lain selain mengonstruksikan apa yang diketahuinya berdasarkan pengalaman sendiri. Semua pikiran orang didasarkan pada pengalamannya sendiri, sehingga disebut subjektif (Suprijono, 2009).
            Pandangan konstruktivistik dilandasi oleh teori Piaget tentang skema, asimilasi, akomodasi, dan equilibration, konsep Zone of Proximal Development (ZPD) dari Vygotsky, teori Bruner tentang discovery learning, teori Ausubel tentang belajar bermakna, dan interaksionisme semiotik. Berikut ini akan dideskripsikan beberapa teori yang melandasi pendekatan konstruktivistik.
1.    Skema
Skema adalah suatu struktur mental atau kognitif yang dengannya seseorang secara intelektual beradaptasi dan mengkoordinasi lingkungan sekitarnya. Skema itu akan beradaptasi dan berubah selama perkembangan mental anak. Skema bukanlah benda nyata yang dapat dilihat, melainkan suatu rangkaian proses dalam sistem kesadaran orang, maka tidak memiliki bentuk fisik dan tidak dapat dilihat. Skema adalah hasil kesimpulan atau bentukan mental, konstruksi hipotesis, seperti intelek, kreativitas, kemampuan, dan naluri (Wadsworth, 1989).
Skema tidak pernah berhenti berubah atau menjadi lebih rinci.Skema seorang anak berkembang menjadi skema orang dewasa.Gambaran dalam pikiran anak menjadi semakin berkembang dan lengkap.Misalnya anak yang sedang berjalan dengan ibunya melihat seekor kuda.Lalu ibunya bertanya, “Apa nama binatang itu nak?” Karena anak tersebut baru kali itu melihat kuda dan sudah sering melihat sapi, maka ia menjawab “Itu sapi”. Anak tersebut melihat ada sesuatu yang sama antara kuda dengan konsep sapi yang ia punyai, yaitu berkaki empat, bermata dua, bertelinga dua, dan berjalan merangkak. Anak tersebut belum dapat melihat perbedaannya, melainkan melihat kesamaannya antara sapi dengan kuda. Bila anak mampu melihat perbedaannya, ia akan mengembangkan skemanya tentang kuda, tidak sebagai sapi lagi.
2.    Asimilasi
Asimilasi adalah proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep, atau pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya. Asimilasi dapat dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan yang baru dalam skema yang telah ada. Asimilasi tidak menyebabkan perubahan skema, melainkan memperkembangkan skema (Suprijono, 2009). Misalnya, seseorang yang baru mengenal konsep balon, maka dalam pikiran orang itu memiliki skema “balon”. Kalau ia mengempeskan balon itu kemudian meniupnya lagi sampai besar dan meletus atau mengisinya dengan air sampai besar, ia tetap memiliki skema tentang balon. Perbedaannya adalah skemanya tentang balon diperluas dan terici lebih lengkap, bukan hanya sebagai balon yang menggelembung karena terisi udara, melainkan balon dengan macam-macam sifatnya. Asimilasi merupakan salah satu proses individu dalam mengadaptasikan dan mengoirganisasikan diri dengan lingkungan baru sehingga pengertian orang itu berkembang.
3.    Akomodasi
Seseorang dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman yang baru, tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru itu dengan skema yang telah ia punyai. Pengalaman yang baru itu bisa jadi sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada. Dalam keadaan seperti ini orang itu akan mengadakan akomodasi, yaitu (a) membentuk skema baru yang dapat cocok dengan rangsangan yang baru atau (b) memodifikasi skema yang ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Misalnya, seorang anak memiliki skema bahwa semua binatang berkaki dua atau empat. Skema itu didapat dari abstraksinya terhadap binatang yang pernah dijumpainya. Pada suatu ketika ia berjalan ke sawah dan menemukan banyak binatang yang kakinya lebih dari empat. Anak tersebut merasakan bahwa skema lamanya tidak cocok lagi dan terjadi konflik dalam pikirannya. Ia harus mengadakan perubahan terhadap skema lamanya. Ia mengadakan akomodasi dengan membentuk skema baru bahwa binatang dapat berkaki dua, empat, dan atau lebih dari empat.
Skema seseorang dibentuk dengan pengalaman sepanjang waktu. Skema menunjukkan taraf pengertian dan pengetahuan seseorang sekarang tentang dunia sekitarnya. Karena skema itu suatu konstruksi, maka bukan tiruan dari kenyataan dunia yang ada. Menurut Piaget, proses asimilasi dan akomodasi ini terus berjalan dalam diri seseorang. Dalam contoh pengalaman anak di atas, ia akan terus mengembangkan skemanya tentang kaki binatang bila dijumpainya pengalaman yang berbeda, misalnya bahwa ada juga binatang yang tidak berkaki.

4.    Equilibration
Proses asimilasi dan akomodasi perlu untuk perkembangan kognitif seseorang. Dalam perkembangan intelek seseorang diperlukan keseimbangan antara asimilasi dengan akomodasi. Proses ini disebut equilibrium, yaitu pengaturan diri secara mekanis untuk mengatur keseimbangan proses asimilasi dan akomodasi. Disequilibrium adalah keadaan tidak seimbang antara asimilasi dan akomodasi. Equilibration adalah proses dari disequilibrium ke equilibrium. Proses tersebut berjalan terus dalam diri individu melalui asimilasi dan akomodasi. Equilibration membuat seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamnya (skema). Bila terjadi ketidakseimbangan, maka seseorang terpacu untuk mencari keseimbangan dengan jalan asimilasi atau akomodasi (Jono, 1989).
5.    Zone of Proximal Development
Piaget dan Vygotsky merupakan dua tokoh utama konstruktivisme. Kedua tokoh ini memandang bahwa peningkatan pengetahuan merupakan hasil konstruksi pembelajaran dari pemelajar, bukan sesuatu yang “disuapkan” dari orang lain. Kedua tokoh ini juga berpendapat bahwa belajar bukan semata pengaruh dari luar, tetapi ada juga kekuatan atau potensi dari dalam individu yang belajar.
Perbedaan lainnya antara lain; 1) Piaget memandang tahapan kognitif anak berdasarkan umur yang kaku, semestara Vygotsky menyatakan bahwa dalam setiap tahapan itu terdapat perbedaan kemampuan anak, 2) Piaget lebih menekankan pada perkembangan kognitif anak sebagai manusia individu yang mandiri, sementara Vygotsky mementingkan perkembangan kognitif anak sebagai makhluk sosial, dan merupakan bagian integral dari masyarakat, dan 3) Piaget menamai potensi diri anak sebagai skemata, sementara Vygotsky menyebutnya sebagai “Zone of Proximal Development”.
Menurut konsep Zone of Proximal Development (ZPD), perkembangan psikologi bergantung pada kekuatan sosial luar sekaligus pada kekuatan batin (inner resources). Asumsi konsep dasar ini adalah bahwa perkembangan psikologis dan pembelajaran tertanam secara sosial, dan untuk memahaminya kita harus menganalisis masyarakat sekitar dan hubungan-hubungan sosialnya. Vygotsky menyatakan bahwa anak mampu meniru tindakan yang melampaui kapasitasnya, namun hanya dalam batas-batas tertentu. Ketika sedang meniru, anak sanggup melakukan secara lebih baik bila dibimbing oleh orang dewasa daripada dilakukannya sendiri. Vygotsky mendefinisikan ZPD sebagai jarak antara “tingkat perkembangan aktual anak sebagaimana ditentukan oleh kemampuan memecahkan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial sebagaimana ditentukan oleh pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau kerjasama dengan sebaya yang mampu”. Oleh karena itu ZPD, merupakan perangkat analitik yang diperlukan untuk merencanakan pembelajaran dan pembelajaran yang berhasil harus menciptakan ZPD yang merangsang serangkaian proses perkembangan batiniah.
Konsep sentral lain dalam karya Vygotsky adalah “pembicaraan batin” (inner speech). Konsep ini muncul dari penjelajahan Vygotsky untuk menemukan hubungan antara tindakan pikiran yang tidak terlihat dengan bahasa sebagai fenomena kebudayaan, yang bisa dijelaskan dengan analisis obyektif. Pembicaraan dengan diri sendiri merupakan masalah utama dalam persoalan hubungan antara pikiran dan bahasa. Para behavioris menyatakan bahwa pikiran hanyalah pembicaran subvocal, pembicaraan lahiriah yang tumbuh sangat kecil. Vigotsky bertentangan dengan behavioris, menegaskan bahwa pikiran berkembang untuk merefleksikan kenyataan sosial. Proses komunikasi dengan orang lain menghasilkan perkembangan makna kata yang kemudian membentuk struktur kesadaran. Pembicaraan batiniah tidak mungkin ada tanpa interaksi sosial. Namun sama dengan Piaget, sumber belajar terutama emerge from within.
6.    Discovery Learning
Bruner membedakan dua tipe model mengajar, yaitu model expository dan model hypothetical (atau discovery learning). Discovery learning adalah sebuah pendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa menggunakan informasi untuk mengkonstruksi pemahamannya sendiri. Menurut Bruner, ada empat manfaat yang dapat diperoleh siswa dengan penerapan metode discovery learning ini, yaitu; 1) meningkatkan potensi intelektual, 2) mengubah dari reward ekstrinsik ke reward intrinsik, 3) mempelajari secara heuristik atau pengerjaan strategi guna melakukan penemuan di masa yang akan datang, dan 4) membantu dalam melakukan retensi dan retrival (memperoleh kembali informasi).
Discovery learning merupakan metode pembelajaran dan sekaligus sebagai tujuan pendidikan. Sebagai metode, discovery learning merupakan penyediaan situasi bagi siswa tanpa mengungkapkan apa yang sudah diketahui guru tentang situasi tersebut. Asumsinya bahwa dengan bantuan minimal dari guru, siswa dapat mempelajari lebih banyak hal bila ia “menemukan” sendiri pelajaran yang dipelajarinya. Sebagai tujuan pendidikan, discovery learning merupakan sikap, strategi dan keterampilan yang memungkinkan individu untuk mengenali dan memecahkan masalah, sehingga membuatnya lebih memiliki kemampuan dalam menghadapi tuntutan-tuntutan kehidupan.
Ada dua tipe discovery, yaitu; unstructured discovery dan guided discovery. Unstructured discovery timbul dalam setting alami dimana siswa mengkonstruksi pemahaman mereka sendiri, seperti seorang ilmuwan yang melakukan penemuan unik dalam proyek penelitian, sedangkan guided discovery timbul manakala guru memberikan gambaran tentang tujuan yang hendak dicapai, menyusun informasi sehingga pola-polanya dapat ditemukan, dan membimbing siswa ke arah tujuan (Joni, 1989).
7.    Belajar Bermakna
Menurut Ausubel (Joni, 1989) belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua demensi. Dimensi pertama, berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran disajikan pada siswa, melalui penerimaan atau penemuan. Dimensi kedua, menyangkut cara bagaimana siswa dapat mengkaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada. Struktur kognitif dalam hal ini ialah fakta, konsep, dan generalisasi yang telah dimiliki oleh siswa.
Pada tingkat pertama dalam belajar, informasi dapat dikomunikasikan pada siswa baik dalam bentuk belajar penerimaan yang menyajikan informasi itu dalam bentuk final, maupun dengan bentuk belajar penemuan yang mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri sebagian atau seluruh materi yang akan diajarkan. Pada tingkat kedua, siswa menghubungkan atau mengkaitkan informasi itu pada pengetahuan (berupa fakta, konsep, dan generalisasi) yang telah dimilikinya; dalam hal ini terjadi “belajar bermakna”. Akan tetapi siswa dapat juga hanya mencoba-coba menghafalkan informasi baru itu, tanpa menghubungkannya pada pengetahuan yang telah ada dalam struktur kognitifnya; dalam hal ini terjadi “belajar
Belajar bermakna merupakan suatu proses mengkaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Meskipun kita tidak mengetahui mekanisme biologi tentang memori atau disimpannya pengetahuan, kita mengetahui bahwa informasi disimpan di daerah-daerah tertentu dalam otak. Banyak sel otak yang terlibat dalam penyimpanan pengetahuan itu. Belajar menghasilkan perubahan-perubahan dalam sel-sel otak, terutama sel-sel yang telah menyimpan informasi yang mirip dengan informasi yang sedang dipelajari.
Tabel 2.Perbedaan antara Teori Behaviorisme, Kognitivisme, dan Konstruktivisme
Behaviorisme
Kognitivisme
Konstruktivisme
Merekayasa lingkungan belajar maksimal secara efisien
Mengembangkan keterampilan untuk life long self-direct learning
Mengembangkan keterampilan untuk life long self-direct learning
Bejalar merupakan perubahan tingkah laku yang dapat diamati dan perilaku tersebut dapat dikuatkan atau dihentikan melalui hukuman.
Belajar merupakan pelibatan penguasaan atau penataan kembali struktur kognitif dimana seseorang memperoleh dan menyimpan informasi.
Belajar merupakan pembagunan pengetahuan berdasarkan pengetahuan yang telah ada sebelumnya
Pengajaran direncanakan dengan menyusun tujuan instruksional yang dapat diukur dan diamati
Semua gagasan dan citraan diwakili dalam skema
Belajar merupakan penafsiran seseorang tentang dunia
Guru tidak perlu tahu pengetahuan apa yang telah diketahui dan apa yang terjadi pada proses berpikir seseorang
Jika informasi sesuai dengan skema akan diterima, jika tidak akan disesuaikan atau skema yang disesuaikan
Belajar merupakan proses aktif melalui interaksi atau kerja sama dengan yang lain dan perlu disituasikan dalam latar yang nyata.
Tanggapan terhadap stimulus dan perilaku teratur
Kontruksi pengetahuan bermakna melalui pengalaman dan interaksi
Tanggapan terhadap stimulus lingkungan dan perilaku teratur
Pengajaran berprogram (programmed instruction) yang menentukan umpan balik kontrak perilaku kinerja, penguatan
Menggunakan kesempatan belajar manipulatif dan dunia-nyata yang relevan dengan pengalaman siswa sebelumnya
Pengajaran berapa program (programmed instruction) yang menentukan umpan-balik pada kontrak perilaku kinerja dan penguatan




BAB III
PENUTUP
A.      Simpulan
            Belajar merupakan kegitan yang sengaja dirancang dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan atau perubahan sikap, pemikiran serta ketrampilan seseorang. Teori belajar behaviorisme merupakan teori belajar perilaku yaitu pemahaman terhadap kejadian di  lingkungan  untuk  memprediksi  perilaku seseorang,  bukan  pikiran,  perasaan,  ataupun  kejadian  internal  lain  dalam diri  orang tersebut.
            Teori belajar kognitif merupakan teori belajar yang menitik beratkan bahwa belajar merupakan bukan berdasarkan hasil yang diperoleh melainkan proses belajar itu sendiri, serta dalam pelaksanaanya belajar dipengaruhi bukan hanya karena stimulus semata melainkan ada variabel internal lain yang mempengaruhi seperti umur, emosi, dan mental seseorang. Teori belajar kognitivisme dan kontruktivisme merupakan teori belajar yang tidak dapat dipisahkan karena kedua teori tersebut harus saling mendukung satu sama lain.
B.       Saran
Saran kepada pembaca terutama calon pendidik diharapkan mampu mempelajari dan mempraktekkan teori belajar yang sesuai dengan kebuuhan anak dalam pembelajaran. Selain itu teori belajar yang diterapkan hendaknya diimbangi dengan metode dan model yang sesuai.



DAFTAR RUJUKAN

Amir, Z. 2015.  Psikologi Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: Aswaja Persindo.

Fathurrohman, M. 2017. Belajar dan Pembelajaran Modern. Yogyakarta: Garudhawaca.

Gasong, D. 2018. Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Deepublish.

Hakim, T. 2005. Belajar Secara Efekti. Jakarta: Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara.

Hermawan, A. 2014. Konsep Belajar dan Pembelajaran Menurut Al-Ghazali. Jurnal Qathruna 1(1) 89.

Husamah. 2018. Pelajar dan Pembelajaran. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Ibda, F. 2015. Perkembangan Kognitif : Teori Jean Piaget. Jurnal Intelektualita, 3 (1) 27-38.

Jono, R. 1989. Teori-Teori Pembelajaran. Jakarta: Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan

Komalasari, K. 2014. Pembelajaran Kontekstual Konsep dan Aplikasi. Bandung: PT Refika Aditama.

Lefudin. 2017. Belajar dan Pembelajaran: Yogyakarta: Deepublish

Mohd. S. 2003. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Yayasan Bhakti Winaya.

Nursalam & Ferry. E. 2008. Pendidikan dalam Keperawatan. Surabaya: Salemba Medika.

Suprijono, A. 2009. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Utami, B. Iskandar, S.M. dan Ibnu, S. 2009. Penerapan Pembelajaran Konstruktivisme Dalam Pembelajaran Kimia di SMU. Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan Kimia. ISSBN 979-498-467-1 198-208.

Wisudawati, A.. 2015. Metodologi Pembelajaran IPA. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Comments

Popular posts from this blog

PENELITIAN HISTORI